Ittiba Adalah, Berikut Ini Pengertian Dari Ittiba!

Soal Pertanyaan : Jelaskan pengertian ittiba​

Jawaban: ittiba’ adalah mengikuti semua yang diperintahkan atau yang dilarang dan yang dibenarkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu ‘ulama’ berpendapat bahwa ittiba’adalah : “Menerima atau mengikuti pendapat perbuatan seseorang dengan mengetahui dasar pendapat atau perbuatannya itu”.

Pembahasan : Dalam menjalankan syariat agama, seorang muslim diharuskan memiliki pedoman dan tidak boleh melakukannya sesuai kehendak sendiri. Ittiba adalah salah satu cara beribadah dengan melihat segala sesuatu yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ruang lingkup yang dimiliki oleh ittiba mencakup semua aspek kehidupan. Keterangan lebih lengkap mengenai ittiba diuraikan dalam penjelasan berikut: 

Pengertian Ittiba dan Hukum Dasarnya

Mungkin sering sekali mendengar kata ittiba saat menghadiri acara pengajian. Lalu sebenarnya bagaimana pengertian dari ittiba itu? Apabila melihat dari tata Bahasa Arab (ilmu shorof dan tashrif), ittiba merupakan bentuk masdar (kata bentukan) dari fi’il madhi ittaba’a. Jadi secara etimologi, arti dari ittiba merupakan mengikuti dan meneladani pihak tertentu.

Sedangkan secara terminologi, ittiba yaitu seseorang mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam semua aspek, meliputi sesuatu yang diperintahkan, dilarang, juga dibenarkan. Ada pula ulama yang mengutarakan pendapatnya mengenai penjelasan ittiba. Bahwasanya itu merupakan bentuk penerimaan atas perbuatan seseorang lalu mengikutinya dan mengetahui dasar yang digunakan dari perbuatan tersebut.

Ketika berbicara tentang hukum dasarnya, maka ittiba adalah wajib. Hal ini diterangkan dalam Surah Ali Imran ayat 31, bahwa makhluk yang benar-benar mencintai Allah, harus mengikuti-Nya. Keterangan lain ada pada Surah Al-Hasyr ayat 7. Seluruh makhluk dituntut menerima sesuatu yang diberikan oleh Rasulullah dan meninggalkan larangannya.

Ittiba memiliki kedudukan dan keagungan, sebab dikatakan sebagai syarat agar ibadah yang dilakukan seorang muslim itu diterima. Amal yang diperbuatnya sudah selaras dan sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammad SAW. Wujud realisasinya ini bukan hanya terfokus pada hal-hal yang wajib. Namun juga mencakup sesuatu yang disunnahkan, dimakruhkan, diharamkan, serta diperbolehkan.

Ruang Lingkup Ittiba

Mengikuti Rasulullah itu mencakup semua aspek kehidupan, yakni urusan duniawi hingga ukhrawi. Keteladanan tersebut harus direalisasikan mulai dari keyakinan, perbuatan, perkataan, serta tindakan meninggalkan sesuatu. Mengenai aspek-aspek ini dijelaskan dalam uraian berikut:

1. Keyakinan (I’tiqadat)

Bagaimana wujud ittiba dalam hal keyakinan atau i’tiqadat? Untuk merealisasikannya, seorang muslim harus meyakini segala sesuatu yang telah diyakini oleh Rasulullah SAW. Keyakinan tersebut meliputi kewajiban yang memang harus dilaksanakan ataukah berhukum bid’ah dan sebaiknya ditinggalkan. Selain itu harus disertai pula dengan keyakinan bahwa akidah tersebut dari Rasulullah.

2. Perbuatan (Af’al)

Sedangkan ittiba dari perbuatan Nabi Muhammad SAW yaitu melakukan sesuatu seperti yang telah dicontohkannya, baik dari segi ketentuan ataupun niat. Seperti halnya dalam berpuasa. Rasulullah telah memberikan teladan mengenai tata caranya, yakni menahan diri mulai terbitnya fajar hingga maghrib. Lalu puasa tersebut diniatkan untuk ibadah fardhu, sunnah, atau memenuhi nazar.

3. Perkataan (Aqwal)

Ruang lingkup selanjutnya dari ittiba yaitu mengikuti perkataan Nabi Muhammad SAW. Wujud meneladani ini harus disertai dengan kesungguhan dalam merealisasikannya, bukan sekadar melafalkan. Contohnya yaitu:

  • Mendirikan shalat sebagaimana yang terkandung dalam perkataan Rasulullah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yakni melakukannya sesuai yang dilihat pada Nabi.
  • Tidak berbuat dengki dan merusak harga pasar sesuai kandungan dalam hadits riwayat Imam Muslim.
  • Merealisasikan perkataan Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Tirmidzi untuk mencari ilmu dan memberikan manfaatnya kepada orang lain.

4. Meninggalkan Sesuatu (Tarkun)

Wujud dari ittiba dalam hal tarkun yaitu meninggalkan perbuatan yang memang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang dicontohkannya. Realisasinya harus disertai dengan rasa penuh keyakinan bahwa itu merupakan amal yang benar-benar ditinggalkan Nabi. Contohnya yaitu tidak melakukan shalat ketika matahari terbit.

Demikian penjelasan mengenai ittiba dan ruang lingkup yang mencakup seluruh aspek duniawi juga ukhrawi. Ittiba adalah bukti kecintaan umat kepada Allah juga Rasulullah. Jadi, sebagai seorang muslim harus mendasarkan segala amalnya terhadap teladan dari Nabi Muhammad SAW.