Bacaan Ghunnah: Pengertian dan Pembagian Ghunnah

Al-Qur’an merupakan firman Allah yang tersusun dari huruf Hijaiyah. Huruf Hijaiyah berjumlah 30, dengan masing-masing memiliki hukum bacaan yang menjadi dasar ketika membaca Al-Qur’an, salah satunya Ghunnah. Secara bahasa, Ghunnah artinya “Mendengung”. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

Contoh Soal : Ghunnah artinya?

Penjelasan Tentang Ghunnah

Seperti yang disampaikan sebelumnya, secara etimologi Ghunnah artinya “Mendengung” atau “Dengung”, yaitu suara lembut yang dikeluarkan melalui pangkal hidung. Sedangkan secara terminologi merupakan bagian dari ilmu tajwid yang mengeluarkan suara lembut dari hidung ketika membaca huruf hijaiyah (Mim dan Nun).

Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa huruf hijaiyah yang memiliki sifat Ghunnah ada 2 yaitu mim dan nun. Selain itu terdapat tingkatan bacaan Ghunnah, yaitu Ghunnah Anqash, Naqishah, Kamilah, dan Akmal. Tingkatan tersebut dikelompokkan berdasarkan panjang dan pendek bacaan ketika membaca.

Cara membacanya yaitu dengan mengeluarkan bunyi dengung dari pangkal hidung dalam waktu tertentu. Terdapat perbedaan pada pendapat para ulama mengenai cara menghitung lama waktunya. Beberapa ulama berpendapat sekitar 2 harakat atau seperti membaca hukum Mad Thabi’i. Sebagian lainnya mengukurnya dengan memakai ketukan, yaitu 2 ketuk.

Macam-macam Hukum Bacaan Ghunnah dan Pembagiannya

Banyak orang yang beranggapan bahwa Ghunnah hanya sebatas bacaan Mim atau Nun yang bertasydid. Namun faktanya, ternyata ada bacaan yang dihukumi bacaan Ghunnah meski tidak bertasydid. Karena sebenarnya sifat Ghunnah yaitu melekat pada huruf mim dan nun. Adapun macam-macam hukum bacaannya sebagai berikut:

1. Bacaan Idgham (Bighunnah)

Terdapat 4 huruf dalam hukum bacaan Idgham Bighunnah antara lain Mim, Nun, Ya’, dan Wau. Membacanya dengan cara berdengung jika harakat Tanwin dan Nun Mati berhadapan pada 4 huruf tersebut. Sedangkan cara untuk menerapkannya dalam bacaan yaitu membaca tasydid pada huruf setelah tanwin atau nun mati dalam satu kalimat.

2. Bacaan Idgham (Mimi)

Bacaan yang dihukumi Ghunnah selanjutnya adalah Idgham Mimi. Hukum bacaan ini sangat mudah dihafal karena hanya mempunyai 1 huruf yaitu Mim. Hukum bacaannya jika Mim Sukun bertemu huruf Mim maka dibaca mendengung dengan panjang 2 ketukan atau 2 harakat.

3. Bacaan Iqlab

Hukum Iqlab terjadi hanya ketika Nun Mati berhadapan dengan huruf Ba’. Cara membacanya ialah dengan menghilangkan bunyi Nun Mati kemudian menggantinya menjadi Mim yang Mati, dan langsung disambungkan dengan huruf setelahnya yaitu Ba’, disertai dengung.

4. Bacaan Ikhfa’ Haqiqi

Ada 15 huruf Ikhfa’ Haqiqi antara lain Zai, Sin, Syin, Shad, Dhad, Tha’, Dal, Dzal, Dzha, Ta, Tsa’, Jim, Fa, Qaf, dan terakhir Kaf. Menghukumi bacaan ini dengan membaca dengung sembari menyamarkan bunyi izhar dengan idgham. Dibaca panjang sekitar 2 harakat atau 1 alif.

5. Bacaan Ikhfa’ Syafawi

Jika Iqlab menggunakan Nun Sukun, Ikhfa’ Syafawi menggunakan huruf Mim Sukun sebagai huruf yang dihukumi. Ikhfa’ Syafawi terjadi ketika Mim Sukun bertemu dengan Ba’ dalam satu kalimat. Caranya dengan membaca samar-samar disertai dengung dengan panjang 1 alif atau 2 ketukan.

6. Bacaan Idgham (Mutaqarribain)

Jika Ba’ Sukun berhadapan dengan Mim hukum bacaannya adalah Idgham Mutaqaribain. Membaca hukum bacaan ini dengan cara menghilangkan huruf yang berharakat Sukun dan mentasydidkan huruf setelahnya. Maka huruf yang mati tersebut hilang atau tidak dibaca.

Maka dapat disimpulkan bahwa Ghunnah artinya bacaan yang diucapkan dengan dengung saat menjumpai huruf-huruf Ghunnah di atas. Hukum bacaan ini termasuk bagian dari ilmu tajwid yang penting untuk diketahui agar ketika membaca Al-Qur’an sesuai arti dan tidak mengurangi maknanya.